Tren Joget THR: Benarkah Terinspirasi dari Tarian Yahudi?

Joget THRThe Viral Sensation: Joget THR Menghibur Netizen Indonesia

Belakangan ini, masyarakat Indonesia ramai membicarakan “Joget THR“, tarian spontan yang muncul saat pembagian Tunjangan Hari Raya (THR). Tak hanya itu, warganet pun ramai-ramai mengunggah video diri mereka menari dengan gaya kocak sambil memegang amplop THR, diiringi lagu-lagu populer seperti Lagunya Cita Citata atau Dangdut PantunAkibatnya, tarian ini menyebar cepat di TikTok dan Instagram, mengumpulkan jutaan views dalam hitungan hari.

Di sisi lain, beberapa kreator konten bahkan memadukan gerakan tradisional seperti joget dangdut dengan gaya modern ala K-Pop. Namun, belakangan muncul spekulasi mengejutkan: benarkah Joget THR terinspirasi dari tarian Yahudi?


Asal Mula Joget THR: Dari Tradisi Lokal Hingga Konten Kreatif

Budaya Syukur ala Indonesia

Sejarawan budaya, Dr. Lintang Ratri, menjelaskan bahwa tarian spontan saat menerima THR berakar dari kebiasaan lokal. Sebagai contoh, ia menyebutkan, “Masyarakat Jawa punya tradisi nguri-uri, mengekspresikan syukur melalui gerakan tubuh. Selain itu, ini mirip dengan joget saat panen atau pernikahan.

 

Peran Media Sosial sebagai Katalisator

Sementara itu, platform seperti TikTok mempercepat penyebaran tren ini. Misalnya, tantangan #JogetTHRChallenge yang dimulai oleh kreator @ArisDance pada Maret 2024 menjadi pemicu utama. Alhasil, dalam dua pekan, tagar ini mencapai 12 juta postingan.


Kontroversi Muncul: Kaitan Gerakan dengan Tarian Yahudi

Klaim Netizen: Mirip Tarian Horah?

Awalnya, sejumlah netizen mengklaim gerakan melingkar dan hentakan kaki dalam Joget THR menyerupai Horah, tarian tradisional Yahudi yang sering dilakukan dalam perayaan. Lebih jauh, mereka menunjukkan contoh video pernikahan Yahudi-Indonesia di Surabaya yang dianggap memiliki kemiripan.

Respons Ahli Tarian Yahudi

Namun, Rabbi David Cohen, pakar budaya Yahudi di Jakarta, membantah klaim tersebut. Dengan tegas, ia menjelaskan, “Horah memiliki pola langkah spesifik seperti step-together-step dan formasi lingkaran ketat. Sebaliknya, Joget THR lebih improvisasi dan tak terikat aturan.”


Analisis Gerakan: Antara Kebetulan dan Inspirasi

Persamaan yang Dikritisi

Di satu sisi, koreografer Mia Surya mengakui ada kemiripan visual sekilas, seperti penggunaan lingkaran dan tepuk tangan. Akan tetapi, ia menegaskan, “Timing gerakan dan filosofinya berbeda. Sementara Horah bersifat ritual, Joget THR murni ekspresi sukacita.”

Pengaruh Global vs Kearifan Lokal

Lebih lanjut, dosen Seni Universitas Indonesia, Prof. Andi Malik, menekankan bahwa globalisasi memungkinkan fusion budaya tanpa disadari. Menurutnya, “Netizen mungkin melihat video Horah di Instagram Reels, lalu otak mereka nge-link ke Joget THR. Pada akhirnya, ini lebih ke cultural deja vu daripada plagiat.”


Respons Publik: Antara Bela dan Tawa

Dukungan untuk Originalitas

Di satu pihak, banyak warganet membela Joget THR sebagai budaya asli. Salah satunya, @DianaWidia menulis, “Kita dari dulu suka joget kalau dapat rezeki. Jadi, ini mah murni kebahagiaan khas Indonesia!”

Meme dan Parodi yang Memperkaya Tren

Di lain pihak, konten parodi pun muncul. Misalnya, video nenek-nenek menari Joget THR sambil memegang kipas plastik atau anak kecil bergaya breakdance dengan amplop THR. Dengan demikian, hal ini semakin menguatkan citra tarian sebagai ekspresi universal kebahagiaan.


Dampak pada Pop Culture: Dari TikTok ke Iklan Televisi

Brand Ramai-ramai Menangguk Popularitas

Tak hanya di media sosial, perusahaan seperti Indomie dan Shopee langsung mengadopsi tren ini dalam iklan THR mereka. Sebagai contoh, versi komersial Joget THR menampilkan selebritas seperti Raffi Ahmad yang menari di antara karyawan berpakaian tradisional.

Kolaborasi Musik: Lahirnya Lagu “THR Anthem”

Selain itu, produser musik DJ Arsyah merilis remix Joget THR Anthem yang mengolah sampel suara gemerisik uang kertas. Alhasil, lagu ini menduduki peringkat 2 Spotify Top 50 Indonesia selama tiga minggu.


Pandangan Antropolog: Tarian sebagai Bahasa Universal

Ekspresi Sukacita yang Tak Terbatas Budaya

Lebih jauh, antropolog Dr. Wulan Saraswati menjelaskan, tarian sukacita memiliki pola universal. Menurutnya, “Orang Mesir kuno menari saat panen, orang Skotlandia ceilidh dance saat pesta. Singkatnya, gerakan melingkar dan tepuk tangan adalah bahasa tubuh alami manusia.”

Joget THR sebagai Cermin Identitas Bangsa

Dengan kata lain, ia menambahkan, “Justru ini bukti bangsa kita adaptif. Di satu sisi, kita serap unsur global, namun tetap berakar pada semangat gotong royong dan kebersamaan.”


Kesimpulan: Inspirasi atau Sekadar Koinisiden?

Alhasil, klaim inspirasi Yahudi pada Joget THR lebih mencerminkan kepekaan netizen terhadap budaya global daripada fakta sejarah. Pada dasarnya, tarian ini lahir dari konteks spesifik: euforia THR yang khas Indonesia, ditambah kreativitas media sosial.

Alih-alih memperdebatkan asal-usul, sebaiknya kita melihat Joget THR sebagai bukti dinamika budaya modern: cair, inklusif, dan penuh kejutan. Seperti kata DJ Arsyah: “Biarkan tarian ini menyatukan kita dalam senyum, bukannya memecah dalam debat.”

Anda mungkin juga suka...

(30) Komentar

  1. Alejandra4419
  2. Keith47
  3. Blanca1556
  4. Hamilton4295
  5. Anastasia4180
  6. Adrian1883
  7. Russell2061
  8. Alexandria2368
  9. Ella873
  10. Jack4878
  11. Jill2241
  12. Evangeline3670
  13. Abbie1404
  14. Ricardo4098
  15. Rosemary1387
  16. Effie825
  17. Devon193
  18. Anderson1712
  19. Taylor2978
  20. Karina4482
  21. Rhys929
  22. Aniya2798
  23. Aisha2826
  24. Earl2488
  25. Billy4760
  26. Chad4800
  27. Nia3423
  28. Alexandra707

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *